Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan optimisme terhadap kemungkinan kesepakatan damai dengan Iran setelah perundingan tidak langsung, seiring penurunan tajam harga minyak dunia. Pernyataan tersebut muncul setelah serangan militer AS ke pulau Qeshm, Iran, yang dilaporkan oleh media asing.

Serangan terhadap Qeshm terjadi di Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan minyak. Serangan ini dianggap sebagai bagian dari rangkaian serangan terbatas AS sebelum pemilu tengah periode. Pihak AS mengklaim serangan tersebut bersifat defensif dan bertujuan mencegah serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial.

Iran mengungkapkan ancaman terhadap Trump melalui iklan besar di Tehran. Iklan tersebut menampilkan Trump di balik penjara dengan pesan balas dendam. Pemerintah Iran juga menawarkan untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam jika AS menyetujui syarat tertentu.

Negosiasi antara AS dan Iran telah terhambat selama beberapa minggu, dengan konflik memanas sejak 28 Februari 2026. Trump menegaskan bahwa AS tidak akan melanjutkan serangan sebelum pemilu tengah. Namun, serangan terhadap Qeshm menunjukkan bahwa AS tetap mempertahankan tekanan terhadap Iran.

Kondisi pasar minyak juga terpengaruh oleh konflik ini, dengan harga minyak turun tajam. Pihak AS mengklaim bahwa serangan tersebut memperkuat posisi negosiasi, meskipun situasi masih memicu ketegangan tinggi di kawasan.