Rencana Amerika Serikat untuk kembali menyerang Iran dalam waktu dekat dikhawatirkan memicu kenaikan harga minyak dunia. Hal ini berpotensi memengaruhi nilai tukar rupiah yang diprediksi mencapai Rp19.000 per dolar AS di akhir 2026.

Analisis menunjukkan bahwa ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas setelah beberapa tahun ketegangan yang relatif stabil. Peningkatan risiko konflik di Timur Tengah membuat pasar minyak global mengalami fluktuasi. Beberapa laporan menyebutkan bahwa harga minyak mentah berpotensi naik hingga 10 persen dalam beberapa bulan ke depan.

Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada ekonomi Indonesia yang masih bergantung pada impor bahan bakar. Pemerintah telah memperketat pengawasan terhadap inflasi dan kebijakan moneter untuk mengurangi tekanan terhadap rupiah. Namun, kebijakan tersebut dinilai belum cukup untuk mengatasi tekanan eksternal yang semakin berat.

Kebijakan AS terhadap Iran selama ini selalu menjadi faktor utama dalam volatilitas pasar minyak. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memperburuk defisit neraca perdagangan Indonesia. Pemerintah sedang berupaya memperkuat daya saing sektor energi dalam negeri sebagai antisipasi.