Pasukan Amerika Serikat meninggalkan pangkalan terakhir di Irak, menandai akhir dari kehadiran militer mereka yang berlangsung selama lebih dari 20 tahun. Penarikan ini dilakukan setelah keputusan pemerintahan Joe Biden pada tahun 2024, yang menandai perubahan strategis dalam kebijakan luar negeri AS. Pihak Iran mengklaim kemenangan setelah kepergian pasukan asing, dengan mengatakan bahwa kekosongan keamanan yang tercipta bisa memperkuat kekuatan milisi pro-Iran.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa penarikan ini memicu kekhawatiran bahwa kelompok teroris seperti ISIS bisa kembali memanfaatkan kekosongan keamanan. Milisi pro-Iran, yang selama ini berperan aktif dalam konflik regional, dikhawatirkan akan semakin memperkuat pengaruhnya. Meski demikian, tidak ada indikasi langsung bahwa ancaman teror akan segera muncul.
Kebijakan penarikan ini juga terjadi dalam konteks konflik antara Israel dan Iran yang memanas sejak Februari lalu. Beberapa analis mengatakan bahwa kepergian pasukan AS dari Irak bisa memengaruhi dinamika kekuasaan di kawasan, dengan Iran mengambil peran lebih besar dalam memimpin kebijakan regional. Kondisi keamanan di Irak tetap menjadi perhatian utama bagi pemerintah setempat dan negara-negara tetangga.




























