Serangan militer milisi Houthi terhadap Bandara Riyadh dan fasilitas minyak Arab Saudi mengganggu rencana pembangunan ekonomi negara tersebut. Serangan tersebut terjadi pada hari Minggu, menurunkan aktivitas penerbangan internasional dan mengganggu operasional kritis di sektor energi. Pemerintah Arab Saudi menyatakan bahwa serangan ini mengancam stabilitas ekonomi dan proyek strategis seperti Visi 2030 yang dipimpin oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Serangan Houthi terjadi di sekitar Bandara Internasional Riyadh, yang merupakan pusat logistik dan transportasi utama negara. Fasilitas minyak di sekitar kawasan tersebut juga menjadi sasaran, menyebabkan gangguan signifikan pada produksi dan distribusi energi. Menurut laporan, serangan ini dilakukan dengan senjata rudal dan peluncur roket, menimbulkan risiko keamanan bagi warga dan personel di area tersebut.
Serangan ini merupakan eskalasi konflik antara milisi Houthi di Yaman dan pemerintah Arab Saudi. Konflik ini telah berlangsung selama beberapa tahun, dengan Houthi sering kali menargetkan fasilitas militer dan infrastruktur strategis di negara tetangga. Pemerintah Saudi mengatakan bahwa serangan ini melanggar prinsip perdamaian dan stabilitas regional.
Pemerintah Indonesia juga memperhatikan situasi ini, dengan anggota DPR Iman Sukri meminta pemerintah pusat untuk memprioritaskan perlindungan warga negara Indonesia yang berada di daerah terkena dampak. Serangan ini menunjukkan bahwa konflik di Yaman masih memiliki dampak luas, termasuk pada keamanan dan stabilitas negara-negara tetangga.



























