Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang mempertimbangkan untuk memecat Duta Besar Amerika Serikat untuk Yunani, Kimberly Guilfoyle, karena dugaan skandal gratifikasi dan penjualan akses ke pejabat tinggi. Menurut laporan media, tuduhan tersebut melibatkan penggunaan posisi sebagai duta besar untuk memperoleh keuntungan finansial.
Guilfoyle, mantan menantu Trump, dituduh menawarkan akses ke pejabat tinggi dalam pemerintahan Trump dalam pertukaran dengan pembayaran 100.000 dolar. Tuduhan ini menyebutkan bahwa ia menawarkan informasi tentang pejabat lama dalam pemerintahan sebelumnya. Selain itu, ia juga diduga menerima hadiah mahal dan mengakses informasi sensitif.
Avokat Guilfoyle membantah semua tuduhan tersebut, menegaskan bahwa tidak ada dasar hukum untuk klaim tersebut. Namun, pihak berwenang Amerika Serikat, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio, sedang mengevaluasi kemungkinan pemecatan Guilfoyle.
Skandal ini terjadi dalam konteks kebijakan luar negeri Trump yang sering kali menjadi sorotan. Tuduhan terhadap Guilfoyle menambah kompleksitas hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Yunani. Pemecatan duta besar bisa memengaruhi hubungan bilateral dan reputasi pemerintahan Trump di kancah internasional.



























