Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat mungkin bergabung dengan Arab Saudi dalam menyerang gerilya Houthi di Yaman setelah serangan rudal yang menewaskan sedikitnya 6 orang di Bandara Riyadh, kata sumber media Indonesia. Serangan tersebut terjadi pada hari Selasa, menurut laporan yang diterbitkan oleh media lokal. Trump mengungkapkan keputusan ini sebagai respons terhadap ancaman yang dianggap berasal dari Houthi, yang terus menargetkan infrastruktur Saudi.
Pada hari yang sama, Trump juga menyatakan dukungan terhadap langkah Arab Saudi untuk melanjutkan serangan udara terhadap Houthi. Pernyataan ini datang setelah serangan rudal yang terjadi beberapa hari sebelumnya, yang menewaskan sejumlah korban dan menyebabkan kerusakan di bandara. Pemerintah Saudi mengklaim bahwa serangan tersebut adalah bagian dari upaya Houthi untuk mengganggu operasi militer mereka.
Serangan terhadap Bandara Riyadh adalah bagian dari konflik berkepanjangan antara pemerintah Yaman dan gerilya Houthi, yang didukung oleh Iran. Konflik ini telah menyebabkan ratusan korban jiwa dan kerusakan besar di wilayah Yaman. Pemerintah Saudi, yang memimpin koalisi militer di Yaman, telah meluncurkan serangan udara terhadap Houthi sejak 2015, dengan alasan menghentikan dukungan Iran terhadap gerilya tersebut.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan keinginan untuk menghentikan krisis energi global dengan mengumumkan kesepakatan antara Rusia dan Ukraina, yang dianggap sebagai langkah untuk menstabilkan harga minyak. Namun, keputusan untuk bergabung dengan serangan Saudi terhadap Houthi menunjukkan bahwa kebijakan luar negeri Trump masih berfokus pada keamanan dan kepentingan strategis di Timur Tengah.



























