Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berskala besar dapat memicu pembentukan awan badai raksasa, menurut data NASA. Fenomena ini terjadi akibat interaksi antara panas dari api dan kelembapan udara. Kebakaran yang menghasilkan asap pekat dan hawa panas intensif mendorong konveksi atmosfer yang kuat.
NASA menjelaskan bahwa panas dari api dan kelembapan udara yang terperangkap menciptakan kondisi yang memungkinkan pembentukan awan badai. Proses ini serupa dengan mekanisme pembentukan badai di daerah lain, tetapi lebih intensif akibat keberadaan asap dan panas yang sangat tinggi.
Kebakaran hutan yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir telah menjadi sumber perhatian ilmiah. Data NASA menunjukkan bahwa kebakaran yang menghasilkan asap tebal dan panas tinggi berpotensi memicu perubahan cuaca lokal. Fenomena ini bisa berdampak pada pola hujan dan kelembapan di sekitar area kebakaran.
Kebakaran hutan telah lama menjadi masalah lingkungan yang kompleks. Namun, hubungan antara kebakaran dan perubahan cuaca semakin terlihat jelas. NASA menekankan bahwa pemantauan ilmiah diperlukan untuk memahami dampak jangka panjang dari kebakaran terhadap iklim.





























