Demokrat menguasai kedua kamar Kongres AS setelah pemilu sela 2026, mengakhiri dominasi mutlak Presiden Donald Trump yang berlangsung sejak kembalinya ke Gedung Putih. Partai Republik kehilangan kursi di Senat, yang sebelumnya dipegang kuat, dan kehilangan kendali atas kebijakan pemerintahan Trump.
Kekalahan besar Republik dalam pemilu sela memicu ancaman investigasi dari pihak Demokrat terhadap Trump. Beberapa anggota Republik mulai memisahkan diri dari Trump, termasuk Gubernur Florida Ron DeSantis, yang menggambarkan kekalahan sebagai kejadian yang bisa melemahkan partai selama bertahun-tahun.
Kebijakan luar negeri Trump, terutama pendekatan terhadap Iran, juga menjadi sasaran kritik. Pemimpin keamanan AS mengatakan bahwa Iran telah menang dalam negosiasi nuklir setelah pemilu sela, sementara Trump menyalahkan Iran atas stagnasi negosiasi.
Beberapa tokoh Republik, seperti JD Vance, menyalahkan kebijakan luar negeri Trump, terutama perang dengan Iran, sebagai penyebab utama kekalahan besar dalam pemilu sela. Kebijakan ekonomi dan harga yang meningkat juga menjadi faktor yang memengaruhi keputusan pemilih.
Kekalahan Republik dalam pemilu sela mengubah dinamika kekuasaan di AS. Trump kini harus menghadapi tekanan dari dalam partai dan dari pihak lawan, dengan masa jabatannya yang tersisa semakin terbatas.




























