Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan menghancurkan Iran dalam pidato di Perguruan Tinggi PBB, meski juga menyatakan pertemuan baik dengan pihak Iran. Dalam pidatonya, Trump menyebut dirinya menghadapi keputusan besar antara menyerang Iran kembali atau mencari kesepakatan perdamaian. Ancaman ini datang setelah beberapa minggu konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Meski mengancam, Trump juga mengatakan bahwa pertemuan antara pihak AS dan Iran di PBB berjalan baik. Ia menyebut pertemuan tersebut sebagai "sangat baik" dan berlangsung selama tiga jam. Namun, ancaman terhadap Iran tetap menjadi fokus utama pidatonya.

Beberapa laporan menyebutkan bahwa harga minyak turun setelah pertemuan tersebut, menunjukkan harapan akan kesepakatan antara AS dan Iran. Meski demikian, ancaman Trump tetap memicu kekhawatiran di kalangan politisi dan analis internasional.

Trump juga menekankan kebijakan luar negeri keras terhadap Iran, meski mengabaikan kekhawatiran Partai Republik terkait dampak politik pemilu tengah periode. Pidato ini menunjukkan ketegangan antara kebijakan luar negeri dan kepentingan politik dalam negeri.