Rupiah ditutup menguat ke level Rp18.137 per dolar AS pada Kamis 29 Oktober. Kurs ini naik 0,25% dibandingkan hari sebelumnya. Penguatan terjadi setelah pasar mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih santai dari Bank Indonesia.

Faktor eksternal utama yang memengaruhi penguatan rupiah adalah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Kebijakan sanksi yang diterapkan AS terhadap Iran meningkatkan kekhawatiran investor terhadap risiko geopolitik, sehingga mendorong aliran dana ke mata uang yang lebih stabil. Selain itu, sentimen domestik juga berkontribusi. Kebijakan fiskal pemerintah yang lebih terkendali dan pertumbuhan ekonomi yang stabil meningkatkan kepercayaan investor terhadap rupiah.

Penguatan rupiah juga didukung oleh kebijakan moneter Bank Indonesia yang tetap konservatif. Meski inflasi tetap tinggi, BI mempertahankan suku bunga yang relatif rendah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Penguatan kurs ini menunjukkan bahwa pasar masih optimistis terhadap stabilitas ekonomi Indonesia. Kondisi ini berpotensi berlanjut jika kebijakan pemerintah tetap konsisten dan risiko eksternal tidak meningkat signifikan.