Demonstran Prancis menggelar aksi besar-besaran di berbagai kota, memicu kerusuhan dan penjarahan massal. Gelombang unjuk rasa menentang kenaikan biaya hidup yang terus meningkat, memaksa pemerintahan Macron menghadapi krisis politik serius. Aksi ini menyebar ke lebih dari 100 kota, dengan fokus utama di Paris, Lyon, dan Marseille. Demonstran menuntut penurunan harga energi, pengurangan pajak, dan reformasi sistem pensiun.
Pemerintahan Macron menghadapi tekanan besar dari masyarakat, dengan kecaman terhadap kebijakan ekonomi yang dianggap tidak menguntungkan rakyat. Pemimpin partai yang berkuasa, Emmanuel Macron, terlihat memperkuat posisi politiknya dengan mengambil langkah-langkah darurat, termasuk peningkatan pengawasan terhadap aksi protes. Namun, kebijakan ini justru memicu ketidakpuasan lebih besar.
Kerusuhan ini merupakan gelombang protes terbesar sejak 2019, menunjukkan ketidakstabilan politik yang semakin memburuk. Pemerintah menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan kepercayaan publik, terutama di tengah krisis ekonomi global. Aksi ini juga menunjukkan kekuatan massa yang semakin besar dalam memengaruhi kebijakan pemerintah.
Krisis politik ini mengingatkan kembali ketegangan antara pemerintah dan rakyat, yang sebelumnya terjadi pada tahun 2019. Namun, kali ini skala dan dampaknya lebih luas, menunjukkan bahwa kebijakan ekonomi pemerintahan Macron tidak lagi mendapat dukungan luas. Aksi ini menjadi tantangan besar bagi kestabilan politik Prancis.



























