Binance, bursa kripto terbesar dunia, diduga menjadi korban serangan siber yang menyebabkan kerugian mencapai 6,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp102 triliun. Laporan ini pertama kali muncul di The New York Times dan langsung menarik perhatian publik.

Serangan tersebut diduga terjadi pada akhir tahun lalu, dengan pelaku memanfaatkan celah keamanan sistem Binance untuk mengakses dana kripto. Pihak Binance menyatakan sedang melakukan investigasi internal dan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengungkap pelaku.

Sebelumnya, Binance telah mengalami beberapa insiden keamanan, termasuk kebocoran data pengguna pada 2022. Meski telah meningkatkan sistem keamanan, kejadian ini menunjukkan bahwa risiko serangan siber tetap tinggi dalam industri kripto.

Serangan siber terhadap bursa kripto semakin sering terjadi, dengan pelaku sering kali menggunakan metode yang canggih untuk menghindari deteksi. Binance menjadi salah satu target utama karena volume transaksi dan nilai aset yang besar.

Kasus ini menegaskan pentingnya keamanan siber dalam industri kripto, yang terus berkembang pesat namun masih rentan terhadap ancaman. Pihak Binance berharap investigasi dapat segera menemukan penyebab dan pelaku serangan tersebut.