Penggunaan QRIS di Indonesia terus meningkat, dengan jumlah pengguna mencapai 67 juta orang pada akhir 2024. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan seiring adopsi teknologi pembayaran digital yang semakin luas. Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan bahwa jumlah pengguna QRIS telah mencapai seperempat dari total populasi Indonesia.
Peningkatan penggunaan QRIS juga berdampak pada penggunaan uang tunai. BI mencatat bahwa penggunaan uang kartal mulai mengalami perlambatan. Hal ini menunjukkan pergeseran ke arah pembayaran digital yang lebih efisien dan aman. Dalam rangka mendorong pertumbuhan, BI menargetkan jumlah pengguna QRIS mencapai 69,32 juta orang di akhir 2026.
Dengan adopsi QRIS yang cepat, pemerintah dan lembaga keuangan terus berupaya meningkatkan akses pembayaran digital bagi masyarakat. Ini menjadi langkah penting dalam mendorong ekonomi digital Indonesia.






























