Pemerintah Indonesia memobilisasi 2.106 tenaga kesehatan dan jutaan masker ke Kalimantan dan Sumatra untuk menangani dampak kesehatan akibat karhutla hingga Oktober 2026. Upaya ini dilakukan dalam rangka mengatasi krisis kesehatan yang diakibatkan oleh asap dari kebakaran hutan.

Kebakaran hutan yang terjadi di wilayah Kalimantan dan Sumatra telah menyebabkan penurunan kualitas udara yang signifikan. Asap tebal yang menghimpit kota-kota di sekitar wilayah tersebut menyebabkan tingkat polusi udara meningkat, sehingga memicu peringatan kesehatan di beberapa daerah.

Kebakaran hutan yang terjadi selama beberapa bulan terakhir diduga dipicu oleh kekeringan ekstrem yang dipengaruhi oleh fenomena El Niño. Fenomena ini menyebabkan curah hujan rendah dan suhu tinggi, yang memperparah kondisi kekeringan. Dampaknya, kebakaran hutan terus berlangsung, menyebabkan asap yang menghimpit wilayah Indonesia dan bahkan menyentuh negara tetangga seperti Malaysia.

Kebakaran hutan di Indonesia bukanlah fenomena baru, tetapi intensitas dan luasnya dalam beberapa tahun terakhir meningkat drastis. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mengendalikan kebakaran, termasuk penerapan kebijakan pembatasan pembukaan lahan dan peningkatan pengawasan di area rawan kebakaran. Namun, upaya ini masih dianggap kurang efektif dalam mengatasi masalah yang terus berulang.

Kebakaran hutan juga memengaruhi ekonomi dan lingkungan. Kebakaran yang terjadi di wilayah hutan lindung menyebabkan kerugian besar bagi masyarakat setempat, termasuk kehilangan lahan pertanian dan hutan. Selain itu, asap yang menghimpit juga mengganggu aktivitas penerbangan dan transportasi.